SEMARANGUPDATE.COM – Pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 untuk jenjang Tkondusif Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD), baik negeri maupun swasta, bakal berhujung pada Jumat, 12 Juni 2026 pukul 23.59 WIB.
Menjelang penutupan, sejumlah SD negeri di Kota Semarang tercatat tetap belum bisa memenuhi kuota peserta didik nan tersedia.
Berdasarkan info pada lkondusif SPMB Kota Semarang hingga Jumat, 12 Juni 2026 pukul 09.00 WIB, tetap terdapat beberapa sekolah dengan jumlah pendaftar nan relatif rendah.
Kondisi ini menunjukkan minat masyarakat terhadap sejumlah SD negeri tertentu tetap belum optimal.
Beberapa sekolah nan belum memenuhi kuota di antaranya SDN Bugangan 2 dengan 18 pendaftar, SDN Wonodri sebanyak 9 pendaftar, SDN Tambakrejo 3 dengan 19 pendaftar, serta SDN Karangkidul nan baru menerima 10 calon siswa.
Selain itu, SDN Sekayu tercatat mempunyai 16 pendaftar, SDN Gabahan 20 pendaftar, dan SDN Gisikdrono 3 nan membuka dua rombongan belajar baru menerima 34 pendaftar.
Kondisi serupa juga terjadi di SDN Randugarut dengan 19 pendaftar, SDN Mangunharjo Tugu nan baru menerima 10 pendaftar, SDN Petompon 3 dengan 17 pendaftar, serta SDN Plalangan 2 nan baru mempunyai 11 pendaftar.
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan, mengatbakal pihaknya belum menyiapkan langkah unik mengenai sekolah-sekolah nan tetap kekurangan siswa hingga hari terakhir pendaftaran.
Menurutnya, tetap ada kemungkinan jumlah pendaftar berubah lantaran orang tua dapat memindahkan pilihan sekolah andaikan anaknya tidak diterima di sekolah tujuan awal.
“Kita lihat strategi orang tua siswa nan pasti mencari sekolah negeri agar bisa masuk, mungkin bakal dipindah kita lihat saja,” kata Aji, Jumat, 12 Juni 2026.
Aji menjelaskan, kejadian sekolah negeri nan tidak memenuhi kuota bukan perihal baru dan sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Umumnya, kondisi tersebut dialami sekolah-sekolah nan berada di area pusat kota.
Ia menilai, pergeseran tempat tinggal family muda menjadi salah satu penyebabnya. Banyak family memilih menetap di wilayah pinggiran lantaran nilai lahan dan kediaman nan lebih terjangkau.
“Keluarga muda ini lebih memilih tinggal di pinggir kota karna harganya lebih murah,” kata dia.
Lebih lanjut, Dinas Pendidikan tetap mengkaji beragam opsi mengenai sekolah nan jumlah siswanya minim, termasuk kemungkinan penggabungan alias merger sekolah.
Namun, keputusan tersebut kudu mempertimbangkan akses pendidikan masyarakat sekitar.
“Kasihan penduduk nan ekonominya belum cukup jika ditutup, kelak sekolahnya lebih jauh, ini nan kami pertimbangkan,” ungkapnya.
Aji menambahkan, andaikan hingga penutupan SPMB tetap terdapat kuota nan belum terisi, pihaknya bakal menunggu pengarahan dari Kementerian Pendidikan mengenai kemungkinan pembukaan penerimaan siswa di luar agenda resmi.
“Kalau memang diperbolehkan, kelak bakal kita tempuh, lantaran sayang jika ada kuotanya dibiarkan kosong,” tandasnya. (*)
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·