SEMARANGUPDATE.COM — Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memberikan penjelasan mengenai rumor kebocoran retribusi persampahan senilai Rp20 miliar nan belakangan ramai diberitakan.
Kepala DLH Kota Semarang, Glory Nasarani menjelaskan, persoalan tersebut merupbakal kasus lama nan terjadi ketika sistem pemgaji retribusi tetap menggunbakal metode campuran antara tunai dan non tunai.
Saat ini, Pemkot Semarang telah menerapkan sistem pemgaji sepenuhnya non tunai alias cashless guna menekan potensi kebocoran penerimaan daerah.
“Yang perlu dipahami masyarakat, kebocoran itu terjadi pada sistem lama ketika pemgaji tetap ada nan dilakukan secara non tunai dan tunai. Sekarang sistemnya sudah non tunai,” ujar Glory.
Ia menerangkan, pada sistem sebelumnya sebagian pemgaji tetap dilakukan secara manual sehingga membuka pesenggang adanya penerimaan nan tidak seluruhnya masuk ke Kas Daerah.
Kondisi tersebut kemudian menjadi bahan pertimbangan bagi Pemkot Semarang untuk membenahi tata kelola retribusi persampahan.
Saat ini, pemgaji retribusi sampah telah dilakukan secara digital melalui Virtual Account, ID Billing, serta Tap Cash.
Dengan sistem tersebut, seluruh pemgaji dari masyarakat maupun pelsaya upaya langsung masuk ke rekening Kas Daerah.
“Semua pemgaji sekarang tercatat secara digital sehingga lebih transparan dan akuntabel,” jelasnya.
Glory menambahkan, retribusi persampahan merupbakal pemgaji atas jasa pengpikulan dan pengelolaan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, termasuk pelayanan di TPA Jatibarang.
Besaran tarif retribusi sendiri telah diatur dalam Perpatokan Daerah Kota Semarang Nomor 4 Tahun 2025.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng, Pemkot Semarang disebut terus melakukan pembenahan sistem retribusi guna meningkatkan transparansi pengelolaan finansial wilayah sekaligus mengoptimalkan pendapatan dari sektor persampahan.
Selain itu, Agustina juga terus mendorong terwujudnya visi “Semarang Bersih” melalui beragam program pengelolaan lingkungan.
Upaya tersebut di antaranya dilakukan lewat gerbakal zero waste berpatokan masyarakat, pembuatan Satgas Berlian (Satuan Petugas Bersih Sungai dan Lingkungan) di setiap kelurahan, hingga optimasi bank sampah di seluruh wilayah Kota Semarang untuk mengurangi volume sampah nan masuk ke TPA. (*)
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·