CEKLANGSUNG.COM – Hari ini, di tengah deburan ombak Bali nan menenangkan, POCO justru memilih untuk membikin keributan. Bukan keributan antrean mengular layaknya peluncuran iPhone, melainkan keributan di kolom komentar dan dompet para penggemarnya.
Peluncuran dunia POCO F8 Pro dan F8 Ultra nan dihelat di Tanah Air ini membawa pesan nan membingungkan. Di satu sisi, mereka berteriak lantang tentang performa buas. Di sisi lain, mereka membisikkan nilai nan membikin kita bertanya: Apakah POCO sedang mengalami krisis identitas?
Mari kita bedah realitas pahit di kembali angka-nomor spek dewa ini.
Evolusi alias Delusi Premium?
Untuk pertama kalinya, jenis “Ultra” diperkenalkan. Harganya? Di atas USD 700. Jika dikonversi ke Rupiah plus pajak peralatan mewah, kita bicara nomor psikologis Rp12 juta hingga Rp13 juta.
Mari kita berakhir sejenak. POCO lahir dari rahim Xiaomi sebagai sub-brand “perusak harga”. DNA mereka adalah Flagship Killer—membunuh HP mahal dengan nilai murah. Namun, dengan banderol nilai ini, POCO F8 Ultra tidak lagi menjadi pembunuh. Ia justru mencoba duduk satu meja dengan raja-raja nan dulu dia ledek: Samsung Galaxy S Series dan iPhone jenis dasar.
Ini adalah langkah berani nan berbpemimpin tipis dengan bunuh diri komersial. Meminta konsumen mengeluarkan Rp12 juta untuk logo berwarna kuning nan identik dengan “HP murah kencang” adalah PR marketing nan nyaris mustahil.
Bayang-Bayang “Mati Suri” (Motherboard Anxiety)
Kita tidak bisa bicara soal POCO tanpa mengungkit gajah di pelupuk mata: rekam jejak kualitas.
Publik Indonesia punya ingatan kolektif nan kuat, dan sayangnya, agak traumatis. Kasus sudden death alias masalah motherboard pada seri legendaris seperti X3 Pro tetap menghantui forum-forum diskusi. Dulu, ketika HP meninggal total di nilai Rp3-4 juta, konsumen marah tapi maklum, “Ya namanya juga HP murah spek dewa, pasti ada nan dikorbankan.”
Tapi di nilai Rp13 juta? Tidak ada ruang untuk toleransi.
Jika Anda membeli Samsung alias iPhone di nilai itu, Anda membeli ketenangan pikiran, agunan update software jnomor panjang nan stabil, dan purna jual nan (relatif) tidak ribet. Jika POCO mau bermain di liga ini, mereka tidak bisa hanya menjual skor AnTuTu. Mereka kudu menjual kepercayaan—sesuatu nan sayangnya, belum sepenuhnya pulih pasca-insiden masa lalu. Apakah Anda rela bertaruh seharga motor jejak untuk sebuah motherboard nan belum teruji durabilitas jnomor panjangnya?
Sindrom “Barang Ghaib”: Dulu Stoknya, Kini Pembelinya
POCO di Indonesia punya tradisi unik: “Barang Ghaib”. Stok sedikit saat flash sale, membikin permintaan terlihat meledak.
Ironisnya, untuk F8 Ultra, saya memprediksi kejadian “ghaib” ini bakal berubah makna. Dulu barangnya susah didapat lantaran ludes diborong tengkulak. Sekarang? Barangnya mungkin bakal ready stock melimpah ruah, tapi pembelinya nan “ghaib”.
Kenapa? Karena di segmen nilai ini, logika “Price to Performance” sudah tidak berlsaya mutlak. Orang membeli prestige. Mengeluarkan HP POCO di tongkrongan pelaksana muda tidak memberikan social currency nan sama dengan mengeluarkan Galaxy S25 alias iPhone 16. Ini kebenaran sosial nan kejam, tapi nyata.
Kesimpulan: Pesta di Rumah Sendiri, Tuan Rumah Menonton dari Pagar
Yang paling menyedihkan dari peluncuran di Bali hari ini adalah ketidakjelasan nasib konsumen Indonesia. Seperti biasa, ini peluncuran “Global”. Kapan masuk resmi ke Indonesia dan bisa dibeli di toko ijo alias oren? Jawabannya klasik: “Segera”.
POCO F8 Series secara teknis adalah monster. Snapdragon 8 Elite (alias setara) di dalamnya tidak bohong. Layarnya pasti memukau. Tapi POCO tampaknya lupa bahwa mereka besar lantaran didukung oleh kaum mendang-mending. Dengan memaksa masuk ke pasar Ultra-Premium tanpa fondasi brand equity nan kokoh, POCO seperti Icarus nan terbang terlampau dekat ke mentari dengan sayap lilin.
Mereka mungkin bakal meleleh, bukan lantaran panasnya chipset, tapi lantaran dinginnya respons pasar.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·