Membeli Steam Machine – Pengumuman Steam Machine baru oleh Valve bikin gempar. Gamer menyambut dengan gembira bagaimana mesin baru racikan Valve ini akan turut meramaikan kancah dunia PC lewat pre-built mereka. Namun, seperti biasa di komunitas akan selalu ada dua sisi opini yang beredar.
Di satu ini banyak yang turut senang karena Valve akhirnya bisa merilis penerus Steam Machine pertama yang kerap dicap gagal. Kehadiran iterasi baru ini diharapkan bisa menggeser stigma kalau kesuksesan Steam Deck mungkin hanya kebetulan belaka.
Tapi, disisi lain ada kekhawatiran kalau performa dari Steam Machine ini tidak akan tetap relevan untuk beberapa tahun ke depan. Apalagi dengan pilihan hardware yang mereka pakai tampak seperti PC kelas introduction yang akan kehilangan tenaganya secara cepat. nan paling mengkhawatirkan tetaplah soal harga.
Berbagai opini yang dilemparkan ke publik membuat penulis berpikir: untuk siapa Steam Machine ini? Apakah perlu bagi kita untuk membeli mesin gaming baru dari Valve yang digadang punya 6 kali spek di atas Steam Deck ini? Mari kita bahas.
Steam Machine: Kulminasi dari Usaha Keras Valve
Mesin gaming terbaru ValveBerbicara soal Steam Machine baru, tidak lah luput kita harus mengenal sedikit siapa Valve itu. Perusahaan gaming yang dimiliki oleh Gabe Newell ini tidak hanya terkenal dengan level toko integer Steam saja. Ia juga menjadi pengembang sekaligus penerbit dari game-game legendaris seperti Half-Life, Portal, Left 4 Dead, Team Fortress, Dota 2, dan juga Counter Strike.
Valve juga telah berkali-kali merilis hardware game, seperti yang kita contohkan di awal yaitu Steam Machine keluaran tahun 2015 silam. Hanya saja, hardware gaming ini gagal melejit lantaran kurangnya minat pasar dan juga minimnya dukungan crippled yang tersedia. Selain itu, Valve turut masuk ke pengembangan headset virtual reality. Mereka merilis Index yang sekaligus menjadi bundling penjualan untuk crippled Half-Life: Alyx. Bisa dikatakan headset virtual ini lumayan sukses meski menyasar pasar yang cukup niche di kala itu.
Setelah itu, Valve lalu ingin meramaikan ranah PC handheld. Mungkin terinspirasi dari ketenaran Nintendo Switch, Valve kini membuat mesin gaming berukuran kecil yang dapat digenggam dan dimainkan kapan saja. Dari ide itu, lahirlah Steam Deck. Bersamaan dengan itu pula, mereka merilis package lapis kompabilitas bernama Proton yang memungkinkan crippled Windows berjalan di atas SteamOS yang notabene adalah OS Linux.
6 kali lebih ngebut dari Steam Deck?Usaha keras Valve terbayarkan dengan kehadiran Steam Deck dan Proton. Handheld ini menjadi salah satu produk yang membuka gerbang PC handheld menjadi seperti sekarang. Handheld buatan Valve ini masih menjadi salah satu mesin gaming portable yang paling efisien soal daya. Racikan sihir SteamOS memungkinkan crippled bisa berjalan dengan mulus dan hanya memakai watt rendah, tidak seperti ketika ia berjalan di Windows 11.
Dan kini kita akan masuk ke pembahasan Steam Machine. Dikenalkan bareng Steam Controller baru dan juga headset virtual Steam Frame, Valve kembali membuat gebrakan baru. Steam Machine generasi kedua ini merupakan mahakarya mereka yang ramai jadi buah bibir di kalangan antusias PC.
Berbekalkan CPU AMD Zen 4 dan GPU RDNA 3, ia digadang membawa performa 6 kali lebih tinggi dari Steam Deck. nan mengejutkan adalah ukuran Steam Machine yang terlihat mungil, dengan dimensi 15,6cm x 15,2cm x 16,2cm merupakan mini-PC yang sangat bertenaga untuk ukuran sekecil itu.
Apakah Perlu Membeli Steam Machine? Siapa Target Pasar Valve?
Siapa target pasar Valve?Harga sendiri masih misteri sampai artikel ini dibuat. Apalagi dengan tanggal rilis yang belum dapat dipastikan, tentu menilai apakah perangkat ini worthy it atau tidak bukanlah keputusan yang bisa diambil sekarang. Namun, jika kita mau mengandai-andai. Misalkan harga dari mesin gaming canggih Valve ini masuk dalam kategori wajar sekali pun, apakah perlu kita membelinya?
Tidak ada jawaban yang mutlak namun pertimbangan Valve bisa saja berdasarkan information dari hardware study mereka. Menurut pengakuan Valve, performa hardware ini nantinya akan melebihi 70% batas bawah spesifikasi PC yang digunakan gamer saat ini. Perlu dicatat klaim tersebut mungkin hanya bedasarkan full dari angka survei bulanan mereka.
Valve mengaku kalau mereka tidak menyasar target pasar konsol dan lebih mengutamakan mereka yang ingin membangun PC dari nol dan menginginkan shape facet mungil. Sehingga, gamer nantinya bisa berkekspektasi kalau performa yang mereka dapatkan akan setara dengan performa build mini shape facet mereka secara harga.
Tapi, bukankah dengan begitu gamer bahkan tidak perlu membeli Steam Machine dikarenakan harga terlalu mirip? Secara kasarnya, hardware Steam Machine ini hanya bisa di-upgrade bagian RAM serta penyimpanan saja dan tidak untuk CPU dan GPU. Bukankah lebih baik merakit sendiri karena ke depannya tinggal upgrade hardware menyesuaikan dengan standar gaming di saat itu.
Dukungan larboard lumayan lengkapMenurut orang Valve sendiri, Steam Machine tetap bisa menawarkan sesuatu yang dibutuhkan gamer. Mereka yang memerlukan PC gaming ace mungil dan kipas yang senyap, dan juga dukungan HDMI-CEC biasanya akan melirik Steam Machine.
Mari kita lihat apakah klaim mereka benar. Pertama-tama soal casing ace mungil yang diklaim oleh Valve. Untuk kategori ini mungkin bisa dikatakan benar. Karena mau bagaimana pun lawsuit aft marketplace saat ini belum ada yang bisa menyentuh ukuran sekecil itu. Case ITX pasaran yang paling mungil sekali pun masih memiliki dimensi lebih besar dari Steam Machine.
Kedua, soal kipas yang senyap rasanya ini bukan sesuatu yang eksklusif. Banyak sekali alternatif lain instrumentality lawsuit atau pun HSF berkualitas yang bisa memberikan performa pendinginan maksimal namun tetap tidak bising. hanya saja dari segi bajet memang ia bisa menelan biaya lebih besar dari kipas bajet biasa.
Terakhir soal fitur HDMI-CEC, sebuah fitur yang memungkinkan untuk mengontrol berbagai perangkat tersambung ke HDMI hanya dengan satu tombol. Memang fitur ini lebih biasa ditemukan di konsol, tetapi bukan berarti tidak ada cara untuk menerapkannya di PC. Hanya saja implementasi di Windows jauh lebih sulit dan memerlukan perangkat khusus. Jadi, untuk poin ini boleh dikatakan argumen Valve cukup tepat.
Setelah semua pembahasan ini, untuk siapa sebenarnya Steam Machine? Valve kelihatannya menargetkan mereka yang menginginkan PC mungil yang bisa dipajang di ruang tamu berbentuk stylish serta bisa menjalankan crippled Steam. Target mereka mungkin bukan gamer hardcore yang sangat peduli terhadap grafis namun sekadar bisa menjalankan crippled terbaru dengan mulus, dan tidak perlu ribet merakit dari nol.
Jadi, kesimpulannya Valve memang bertaruh besar pada Steam Machine kali ini. Meski mereka jauh lebih pede karena OS yang lebih matang, namun semua harus bergantung pada apakah gamer mau berpaling dan memilih hardware yang tidak punya aspek upgradability seluas PC. Terakhir yang perlu kita tunggu adalah berita soal harga. Kalau menurut kamu gimana?
Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further accusation and different inquiries, you tin interaction america via author@gamebrott.com.
22 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·