Mengapa Ada Banyak Protokol Fast Charging Untuk Android?

Sedang Trending 16 jam yang lalu

Protokol accelerated charging – Pengguna Android pasti sadar kalau setiap marque HP memiliki tipe accelerated charging mereka sendiri. Mulai dari Xiaomi kini ada HyperCharge, Oppo punya SuperVOOC, Vivo dengan Flash Charge, dan Samsung dengan Super Fast Charging.

Tapi mengapa setiap marque harus memiliki protokol pengecasannya sendiri, mengapa tidak ada satu protokol cosmopolitan yang bisa digunakan semuanya? Jawabannya ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Mari kita bahas di artikel kali ini.

Mengapa Ada Banyak Protokol Fast Charging di Android?

protokol accelerated chargingKok bisa ada banyak protokol berbeda?

Sebenarnya standarisasi pengecasan dari USB sendiri sudah tersedia lewat kehadiran USB-PD (Power Delivery). Standar ini jauh lebih fleksibel dan membolehkan perangkat bernegosiasi untuk menarik daya tertentu sesuai kebutuhan mereka. Sebagai contoh, rentang daya yang USB-PD sediakan bisa dimulai dari 5W sampai 240W tergantung perangkat.

Lalu dengan tingkat flesibilitas yang baik, mengapa masih banyak marque smartphone Android yang tetap menggunakan protokol proprietary seperti yang sudah kita bahas tadi? Jawabannya ada berbagai lapis.

Pertama, marque sebenarnya pernah berada di fase berlomba-lomba siapa yang bisa menyajikan pengisian daya tercepat. Jika saat ini marque tengah berlomba menambahkan kapasitas baterai, maka beberapa tahun lalu, para vendor sedang fokus untuk menaikkan kecepatan pengisi. Maka marque mulai bisa menaikkan kemampuan pengecasan yang naik dari 35W menjadi 45W. Lalu menyusul ke 65W dan lalu tembus 100W. Bahkan beberapa exemplary Android ada yang bisa mencapai angka 200W.

Tetapi, untuk mencapai kecepatan pengecasan luar biasa ini, tidak bisa bergantung pada standar umum seperti USB Power Delivery. Vendor smartphone merasa lebih nyaman menggunakan protokol proprietary dimana mereka bisa mengatur berapa kuat arus, voltase, hingga seberapa panas yang dihasilkan selama proses pengisian daya.

Belum lagi karena fleksibilitasnya tersebut, berarti USB-Power Delivery harus mendukung berbagai perangkat. Sehingga sulit rasanya bagi marque smartphone untuk mendongkrak kecepatan semau mereka. Mereka harus menunggu pihak USB menambahkan standar baru jika ingin melampaui batas yang sudah ada.

Trik yang Berbeda dari USB-PD

ImageKabel harus khusus?

Salah satu alasan mengapa smartphone bisa mengisi daya dengan cepat adalah pendekatan berbasis Ampere. Berbeda dengan USB-PD yang lebih fokus menaikkan atau menurunkan Voltase, kebanyakan protokol proprietary lebih main di Ampere yang bisa berubah-ubah.

Namun, trik seperti ini biasanya membutuhkan kabel khusus yang mendukung Ampere tinggi. Misalkan saja, charger dari marque Xiaomi sendiri menyediakan kabel dengan 3A yang pada saat itu sulit untuk menemukan spesifikasi yang sama di marque third-party. Jadi, ketika pengguna mengganti kabel charger bawaan, biasanya kecepatan pengecasan akan turun drastis. Sebab, kabel baru tidak dapat mengantarkan arus sebesar 3 Ampere.

Meski kini USB-PD sudah mengejar dengan penghadirkan protokol pendukung PPS (programmable Power Supply), tetap saja marque hanya sekedar mengimplementasikan fitur tersebut tanpa ada dukungan penuh. Pasalnya, mereka sudah lebih kenal dan nyaman dengan protokol sendiri yang sudah dikembangkan dengan biaya tidak murah pula.

Sarana Membangun Ekosistem Mini

ImageSekalian jualan aksesori

Salah satu alasan lain mengapa marque masih pakai protokol bawaan adalah tidak lain karena ia bisa jadi lahan cuan yang cukup menggiurkan. Dengan mengunci metode pengecasan berbasis kabel atau batok bawaan, maka begitu aksesori tersebut rusak, pengguna akan kembali membeli suku cadang original.

Trik ini memang terkenal jitu untuk mengembalikan pembeli meski transaksi jual-beli telah usai. Pengguna yang menginginkan pengecasan ngebut seperti biasanya mau tidak mau harus membeli charger original. Harganya juga terpatok tidak murah terutama untuk tipe dengan kecepatan tinggi.

Karena itu pula marque tidak mau berganti ke standar protokol lain dalam sekejap mata. Selain mereka harus menjaga ekosistem yang sudah digunakan ratusan juta pengguna, penjualan aksesori seperti ini juga menjadi ladang cuan dengan profit tidak sedikit.

Secara kemampuan teknis, tiap marque spot pun mau unjuk gigi. Misalkan saja, Qualcomm mengenalkan Quick Charge, sedangkan MediaTek punya Pump Express, dan Samsung dengan Fast Charging.

Kesimpulan

Jadi, apakah standar protokol proprietary akan terus bertahan? Sayangnya iya. Mengingat belum ada regulasi world yang mengatur kalau marque tidak diizinkan mengunci ekosistem pengecasan mereka, rasanya kita akan tetap melihat nama-nama seperti SuperVOOC, FlashCharge, dan sejenisnya pada tiap brand.

Gimana menurut kamu? Apakah kamu termasuk yang setuju dengan banyaknya protokol pengecasan seperti ini? Atau sebaiknya hanya ada satu saja protokol cosmopolitan biar tidak ribet?


Dapatkan informasi keren di Gamebrott terkait Tech atau artikel sejenis yang tidak kalah seru dari Andi. For further accusation and different inquiries, you tin interaction america via author@gamebrott.com.

Selengkapnya
Sumber game
-->