16 Contoh Bioteknologi Konvensional Berbagai Bidang Dan Manfaatnya

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Tempe, keju, dan tape adalah salah satu contoh bioteknologi konvensional nan sering kita temukan di kehidupan sehari-hari. 🧀🍞

Tanpa teknologi rumit, bioteknologi konvensional memanfaatkan mikroorganisme seperti ragi, bakteri, dan jamur untuk menghasilkan produk nan lebih awet, lebih enak, alias lebih bermanfaat. 

Artikel ini bakal memberikan contoh bioteknologi konvensional dari beragam bagian agar Anda mudah memahaminya dan bisa memakainya untuk tugas alias referensi belajar.

Apa itu Bioteknologi Konvensional?

pexels.com/chokniti-khongchum

Bioteknologi konvensional adalah penerapan pengetahuan biologi nan memanfaatkan makhluk hidup alias mikroorganisme untuk menghasilkan produk nan berfaedah bagi manusia dengan langkah sederhana dan alami. 

Teknologi ini sudah digunbakal sejak lama, apalagi sebelum manusia mengenal perangkat laboratorium modern dan rekayasa genetika.

Praktek bioteknologi konvensional pada prinsipnya tidak mengubah susunan gen (DNA) dari suatu organisme. Proses ini mengandalkan keahlian alami mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan ragi untuk bekerja melalui sistem biologis nan sudah ada di alam. 

Salah satu proses nan paling umum adalah fermentasi. Fermentasi adalah perubahan bahan makanan oleh mikroorganisme menjadi produk baru dengan rasa, aroma, tekstur, alias daya simpan nan lebih baik.

Proses penerapan bioteknologi konvensional ini relatif mudah dilakukan, tidak memerlukan peralatan canggih, serta dapat diterapkan pada skala rumah tangga hingga upaya kecil.

Secara keilmuan, konsep bioteknologi konvensional banyak dijelaskan dalam kitab biologi tingkat SMA dan perguruan tinggi dasar, terutama pada materi bioteknologi pangan dan lingkungan. 

Hingga saat ini, bioteknologi konvensional tetap relevan lantaran berkedudukan krusial dalam ketahanan pangan, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

15 Contoh Bioteknologi Konvensional Berbagai Bidang dan Manfaatnya

Bioteknologi konvensional memanfaatkan proses biologis alami dengan teknologi nan relatif sederhana. Ciri utamanya, teknologi ini mengandalkan kerja mikroorganisme seperti ragi, bakteri, dan jamur melalui proses seperti fermentasi dan penguraian bahan organik. 

Peralatannya pun tidak rumit, biaya condong lebih terjangkau, dan penerapannya banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Terutama di bagian pangan, pertanian, peternakan, dan lingkungan. 

Berbeda dari bioteknologi modern nan memakai teknik canggih seperti rekayasa genetika alias manipulasi DNA di laboratorium, bioteknologi konvensional tidak mengubah materi genetik secara langsung. 

Karena itu, hasilnya bisa dipengaruhi kebersihan, suhu, dan waktu proses, tetapi tetap efektif menghasilkan produk nan lebih awet, lebih bernilai, dan lebih bermanfaat.

Berikut beberapa contoh bioteknologi konvensional dari beragam bagian nan bisa Anda temukan di kehidupan sehari-hari: 

Bidang Pangan dan Minuman

Bidang pangan dan minuman merupbakal contoh paling nyata dari penerapan bioteknologi konvensional. Sejak lama, manusia memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah bahan makanan agar lebih tahan lama, mudah dicerna, serta mempunyai cita rasa nan lebih baik. 

Proses nan paling sering digunbakal adalah fermentasi, ialah pemanfaatan aktivitas bakteri, jamur, alias ragi untuk mengubah bahan bsaya menjadi produk baru nan lebih bernilai.

Berikut beberapa contoh bioteknologi konvensional di bagian pangan dan minuman nan paling umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

1. Tempe

Pengrajin tempe membikin tempe melalui fermentasi kedelai dengan support jamur. Jamur ini menguraikan senyawa kompleks dalam kedelai sehingga tempe menjadi lebih mudah dicerna.

Dengan proses ini, maka dapat meningkatkan nilai gizi protein, memperbaiki tekstur, serta menjadi sumber protein nabati nan terjangkau.

2. Tape Singkong

Tape singkong dihasilkan dari fermentasi singkong menggunbakal ragi. Proses ini mengubah pati menjadi gula sederhana sehingga tape mempunyai rasa manis dan aroma khas.

Manfaatnya bisa menambah ragam olahan pangan, meningkatkan cita rasa, dan membikin singkong lebih mudah dikonsumsi.

3. Tape Ketan

Cara membikin tape ketan cukup mudah, Anda perlu beras ketan nan difermentasi dengan ragi. Hasil fermentasi ini menghasilkan rasa manis, sedikit asam, dan tekstur lembut pada ketan.

Aktifitas ini bisa meningkatkan nilai ekonomi ketan dan menjadi bahan dasar beragam makanan tradisional.

4. Yoghurt

Yoghurt adalah hasil dari fermentasi susu menggunbakal kuman masam laktat. Bakteri ini mengubah laktosa menjadi masam laktat nan menyebabkan rasa masam dan tekstur kental.

Manfaatnya pun cukup banyak, mulai dari membantu kesehatan pencernaan, memperpanjang daya simpan susu, hingga menjadi sumber probiotik alami.

5. Keju

Apakah Anda pecinta keju? 

Keju sendiri adalah hasil dari pengolahan dan fermentasi susu melalui proses penggumpalan protein. Lama fermentasi dan jenis mikroorganisme mempengaruhi rasa dan tekstur keju.

Dengan mengubah susu menjadi keju, maka proses ini bisa meningkatkan daya simpan susu, memperkaya cita rasa, serta menjadi sumber protein dan kalsium.

6. Roti

Roti dibuat dengan memanfaatkan ragi nan memfermentasi gula dalam adonan. Proses ini menghasilkan gas nan membikin adukan mengembang.

Contoh bioteknologi konvensional ini menghasilkan tekstur roti nan empuk, berpori, dan mempunyai aroma unik fermentasi.

7. Kecap

Kecap merupbakal hasil fermentasi kedelai nan kemudian diolah menjadi cairan berwarna gelap dengan rasa gurih alias manis. Kecap pun menjadi bagian dari ramuan nan selampau ada di dapur orang Indonesia.

Proses fermentasi kedelai ini bisa menambah cita rasa masakan, memperpanjang daya simpan bahan, dan meningkatkan nilai jual kedelai.

8. Cuka

Fermentasi alkohol menjadi masam asetat adalah langkah untuk membut cuka. Proses ini menghasilkan cairan masam dengan sifat antimikroba alami.

Cuka sendiri berfaedah sebagai pengawet alami, penyedap rasa, dan bahan pengolahan makanan.

9. Nata de Coco

Nata de coco adalah hasil dari fermentasi air kelapa oleh kuman tertentu nan memcorak lapisan serat kenyal.

Manfaatnya pun cukup banyak seperti meningkatkan nilai ekonomi air kelapa, menghasilkan produk rendah kalori, dan menambah ragam olahan minuman dan dessert.

Bidang Pertanian

Di bagian pertanian, bioteknologi konvensional membantu petani meningkatkan hasil panen dan menjaga kesuburan lahan dengan langkah nan alami. 

Teknologi ini biasanya memanfaatkan mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik alias memperbaiki kualitas pertanian. 

Karena prosesnya sederhana dan bisa diterapkan di tingkat rumah tangga maupun golongan tani, bioteknologi konvensional menjadi solusi nan praktis. Berikut beberapa contohnya: 

10. Kompos

Kompos terbuat dari sisa daun, jerami, alias limbah dapur nan diuraikan oleh mikroorganisme seperti kuman dan jamur. Proses penguraian ini mengubah bahan organik menjadi pupuk nan lebih stabil dan kondusif bagi tanaman.

Manfaat pembuatan kompos adalah untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, menambah kandungan bahan organik, serta mengurangi volume sampah.

11. Pupuk Kandang Fermentasi

Petani sering memfermentasi kotoran ternak terlebih dulu sebelum digunakan. Proses ini membantu menurunkan bau, menstabilkan unsur hara, dan mengurangi akibat “panas” nan bisa merusak akar tankondusif jika pupuk tetap segar.

Fermentasi pupuk kandang ini bisa meningkatkan kualitas pupuk organik, membikin pupuk lebih kondusif untuk tanaman, serta menekan kemungkinan munculnya patogen.

12. Seleksi Bibit Unggul

Pengembangan varietas tankondusif secara konvensional dilakukan dengan langkah memilih bibit dari tankondusif nan paling sehat, tahan hama, alias menghasilkan panen terbaik. 

Para petani mengulang proses seleksi ini dari generasi ke generasi hingga memperoleh varietas nan lebih sesuai dengan kondisi lahan setempat. Hasilnya bisa menghasilkan varietas lokal nan lebih unggul, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat ketahanan tanaman.

Bidang Peternbakal dan Perikanan

Selain pertanian, bioteknologi konvensional juga banyak diterapkan dalam bagian peternbakal dan perikanan. Teknologi ini dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pakan, menjaga kesehatan hewan, serta mendukung pertumbuhan ternak dan ikan secara alami. 

Dengan support mikroorganisme, bahan pbakal dapat diolah menjadi lebih awet dan mudah dicerna, sehingga efisiensi produksi dapat meningkat tanpa teknologi nan rumit. Contoh bioteknologi konvensional di bagian peternbakal dan perikanan adalah: 

13. Silase

Silase merupbakal pbakal ternak nan dibuat dari hijauan seperti rumput alias tankondusif jagung nan difermentasi dalam kondisi rapat udara. Proses fermentasi ini membantu mempertahankan kandungan nutrisi pbakal dalam jnomor waktu nan lebih lama.

Dengan proses ini, maka peternak bisa menjaga kesiapan pbakal saat musim kering, mempertahankan nilai gizi hijauan, dan mengurangi pemborosan pakan.

14. Pbakal Probiotik 

Pbakal probiotik berasal dari mikroorganisme baik hasil fermentasi nan ditamapalagi ke dalam pbakal ternak alias ikan. Mikroorganisme ini membantu menjaga keseimbangan mikroba dalam sistem pencernaan hewan.

Proses ini berfaedah untuk meningkatkan nafsu makan, membantu penyerapan nutrisi, memperbaiki kesehatan pencernaan, dan mendukung pertumbuhan ternak alias ikan.

15. Pemuliaan Ternak Konvensional

Peternak bisa mendapatkan bibit bagus dengan memilih indukan nan mempunyai sifat unggul, seperti pertumbuhannya cepat, produksi susu tinggi, alias daya tahan tubuh nan baik. Proses seleksi ini dilakukan secara alami dan berulangkali .

Hasilnya bisa meningkatkan kualitas dan hasil produksi ternak, mempertahankan sifat unggul, serta menyesuaikan ternak dengan kondisi lingkungan setempat.

Bidang Lingkungan

Bioteknologi konvensional juga berkedudukan krusial dalam pengelolaan lingkungan. Melalui support mikroorganisme, limbah organik dapat diolah menjadi produk nan lebih berfaedah dan ramah lingkungan. Penerapan teknologi ini membantu mengurangi pencemaran sekaligus memaksimalkan pemanfaatan sumber daya nan sebelumnya dianggap tidak berguna.

16. Biogas

Fermentasi bahan organik, seperti kotoran ternak alias sisa limbah rumah tangga dalam kondisi tanpa oksigen bakal menghasilkan biogas. Mikroorganisme bakal menguraikan bahan tersebut dan menghasilkan gas nan dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya alternatif.

Dengan adanya biogas bakal bisa mengurangi limbah organik, menekan pencemaran lingkungan, serta menyedibakal sumber daya terbarukan nan murah dan mudah diterapkan di pedesaan.

Penutup

Melalui support mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan ragi, beragam bahan mentah dapat diolah menjadi pangan nan lebih awet, lebih bergizi, dan lebih mudah dicerna. 

Selain itu, bioteknologi konvensional juga membantu mengelola limbah organik menjadi kompos dan biogas, sehingga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung prinsip keberlanjutan.

Bioteknologi konvensional berfaedah untuk peningkatan kualitas dan nilai ekonomi bahan pangan, perbaikan kesuburan tanah, efisiensi pbakal ternak, serta pengurangan pencemaran lingkungan. 

Teknologi ini juga berkedudukan dalam memperkuat ketahanan pangan lantaran dapat diterapkan pada skala rumah tangga hingga upaya mini dengan biaya nan relatif terjangkau. Segimana beberapa contoh bioteknologi konvensional nan sudah disebutkan di tulisan ini.

Namun, bioteknologi konvensional juga mempunyai keterbatasan. Prosesnya condong memerlukan waktu lebih lama dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, seperti suhu, kebersihan, dan kualitas bahan baku. Akibatnya, hasil nan diperoleh tidak selampau seragam dan berisiko kandas jika terjadi kontaminasi. 

Meski demikian, dengan penerapan nan tepat dan higienis, bioteknologi konvensional tetap menjadi teknologi nan efektif dan mudah diterapkan.


Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:

Kost Dekat UGM Jogja

Kost Dekat UNPAD Jatinangor

Kost Dekat UNDIP Semarang

Kost Dekat UI Depok

Kost Dekat UB Malang

Kost Dekat Unnes Semarang

Kost Dekat UMY Jogja

Kost Dekat UNY Jogja

Kost Dekat UNS Solo

Kost Dekat ITB Bandung

Kost Dekat UMS Solo

Kost Dekat ITS Surabaya

Kost Dekat Unesa Surabaya

Kost Dekat UNAIR Surabaya

Kost Dekat UIN Jakarta

Selengkapnya
Sumber mamikos
-->