Majas personifikasi sering digunbakal untuk memberikan nilai tambah pada sebuah karya, sehingga tak heran jika banyak nan memerlukan pedoman mengenai contoh majas personifikasi dalam puisi.
Majas personifikasi merupbakal style bahasa nan memberikan karakter alias sifat manusia pada barang meninggal alias perihal nan tidak bernyawa agar pembaca dapat merasbakal emosi alias gambaran lebih kuat.
Artikel ini bakal menyajikan 155 contoh majas personifikasi dalam puisi nan dapat Anda gunbakal sebagai referensi. Yuk, simak artikelnya hingga akhir! ✏️📜📝
Pengertian Majas Personifikasi dan Tujuannya
Majas personifikasi adalah salah satu gaya bahasa dalam sastra nan memberikan sifat, perilaku, alias keahlian manusia kepada barang mati, hewan, alias unsur alam.
Melansir dari Gramedia Blog, kata personifikasi berasal dari bahasa Yunani ialah “prosopopoeia” yang berarti memanusibakal dan diambil pula dari bahasa Inggris ialah person nan artinya orang.
Melalui majas ini, sesuatu nan sebenarnya tidak bernyawa seolah-olah dapat berbicara, bergerak, merasa, alias bertindak seperti manusia.
Dalam puisi, majas personifikasi sering digunbakal untuk menciptbakal gambaran nan lebih hidup sehingga pembaca dapat membayangkan suasana nan mau disampaikan penyair secara lebih jelas dan mendalam.
Penggunaan majas personifikasi mempunyai tujuan utama untuk memperkuat daya khayalan pembaca. Ketika alam alias barang meninggal digambarkan sebakal mempunyai emosi dan tindbakal manusia, pembaca bakal lebih mudah terhubung secara emosional dengan isi puisi.
Inilah argumen kenapa majas personifikasi dalam puisi banyak ditemukan dalam karya sastra bertema alam, perasaan, dan kehidupan, lantaran majas ini dapat membantu menyampaikan makna secara lembut tanpa kudu menjelaskannya secara langsung.
Bagi pelajar, memahami dan menggunbakal majas personifikasi dapat membantu meningkatkan keahlian menulis puisi, memperluas kosakata, serta melatih kepekaan dalam mengolah kata agar pesan nan disampaikan dapat diterima pembaca dengan lebih efektif.
155 Contoh Majas Personifikasi dalam Puisi nan Bisa Jadi Referensi
1. “Pagi melangkah perlahan membuka gorden gelap.”
2. “Angin pagi menyisir rambut pepohonan.”
3. “Langit menunduk malu saat hujan turun.”
4. “Matahari tersenyum hangat di kembali awan tipis.”
5. “Daun-daun bertepuk tangan menyambut musim baru.”
6. “Malam memeluk kota dengan sunyinya.”
7. “Bintang berjaga di langit menemani kesepian.”
8. “Hujan menari di atas genting rumah tua.”
9. “Kabut melangkah pelan menyelimuti perbukitan.”
10. “Senja menghela napas sebelum gelap datang.”
11. “Angin berlari mengejar daun nan jatuh.”
12. “Sungai menyanyi sepanjang perjalanan menuju laut.”
13. “Pohon-pohon berdiri setia menjaga bumi.”
14. “Mentari mengintip malu dari kembali awan.”
15. “Ombak berbisik lembut di telinga pantai.”
16. “Malam mendengarkan keluh kesah manusia.”
17. “Embun pagi mencium ujung daun.”
18. “Bulan melangkah pelan mengikuti waktu.”
19. “Awan berlarian menghindari terik matahari.”
20. “Bumi tersenyum saat hujan menyentuhnya.”
21. “Angin malam membujuk luka kenangan.”
22. “Daun kering menangis saat terhempas angin.”
23. “Langit memanggil burung untuk pulang.”
24. “Pagi menyapa bumi dengan sinar lembut.”
25. “Bintang menutup mata saat fajar datang.”
26. “Matahari memeluk bumi dengan sinarnya.”
27. “Hujan mengetuk jendela rumah sepi.”
28. “Kabut menelan jalanan perlahan.”
29. “Angin berbisik membawa pesan rindu.”
30. “Langit menangis sepanjang malam.”
31. “Senja menutup hari dengan warna jingga.”
32. “Daun-daun berlarian meninggalkan dahan.”
33. “Bulan menjaga tidur anak-anak bumi.”
34. “Angin pagi membangunkan kota nan lelah.”
35. “Sungai memeluk batu sepanjang alirannya.”
36. “Malam menyimpan rahasia di kembali gelapnya.”
37. “Matahari mengejar gambaran hingga senja.”
38. “Awan tersenyum saat hujan reda.”
39. “Pohon-pohon berbisik saat angin datang.”
40. “Bumi menampung capek langkah manusia.”
41. “Hujan menemani kesunyian malam.”
42. “Angin membawa cerita dari kejauhan.”
43. “Langit memeluk bintang di malam hari.”
44. “Mentari mengucap selbanget pagi pada dunia.”
45. “Senja berpamitan sebelum malam datang.”
46. “Malam menghapus jejak langkah nan tertinggal.”
47. “Angin sore mengantar pulang capek hari.”
48. “Daun hijau tersenyum saat sinar jatuh.”
49. “Langit membuka pintu bagi datangnya hujan.”
50. “Hujan memeluk bumi nan kehausan.”
51. “Awan menumpahkan kangen di atas kota.”
52. “Mentari menenangkan dingin pagi.”
53. “Angin malam menyimpan rahasia sunyi.”
54. “Bintang memandang bumi dengan sabar.”
55. “Pepohonan melindungi tanah dari panas.”
56. “Senja memeluk kenangan nan pulang.”
57. “Kabut menyembunyikan wajah gunung.”
58. “Langit menurunkan kembimbingan lewat petir.”
59. “Hujan menemani bumi dalam diam.”
60. “Angin berkelana mencari rumah.”
61. “Bulan menjaga janji pada malam.”
62. “Awan berlindung dari terik mentari.”
63. “Daun gugur berpamitan pada dahan.”
64. “Bumi menampung segala luka manusia.”
65. “Pagi membujuk bumi kembali bernapas.”
66. “Malam menutup mata kota nan lelah.”
67. “Angin pagi membisikkan angan baru.”
68. “Langit tersenyum saat awan perlahan pergi.”
69. “Hujan membersihkan luka bumi.”
70. “Mentari membangunkan pagi dengan cahaya.”
71. “Awan mengantar hujan ke tanah kering.”
72. “Bulan setia menemani malam nan sunyi.”
73. “Daun-daun menari mengikuti irama angin.”
74. “Kabut memeluk lembah dengan dingin.”
75. “Langit menyimpan tangis hujan semalaman.”
76. “Angin sore menenangkan panas hari.”
77. “Bintang berjaga hingga fajar tiba.”
78. “Pagi menyapu sisa gelap malam.”
79. “Hujan mengetuk bumi dengan lembut.”
80. “Mentari memeluk bumi tanpa lelah.”
81. “Langit menahan tangis sebelum badai.”
82. “Angin berlari membawa berita perubahan.”
83. “Bulan tersenyum memandang bumi tenang.”
84. “Awan menutup wajah langit perlahan.”
85. “Senja berpamitan pada hari nan usai.”
86. “Malam merangkul sunyi di perspektif kota.”
87. “Angin pagi membawa senyum hari baru.”
88. “Langit memeluk awan dengan sabar.”
89. “Hujan menenangkan bumi nan gelisah.”
90. “Mentari menyapa sawah nan menguning.”
91. “Daun-daun bergoyang mengikuti rayuan angin.”
92. “Bulan mengenting laut dengan tenang.”
93. “Kabut merayap mencari celah cahaya.”
94. “Pagi menyalbakal angan di ufuk timur.”
95. “Angin sore menyanyikan lagu perpisahan.”
96. “Langit membuka mata saat fajar tiba.”
97. “Hujan membasuh luka kota.”
98. “Awan berkelana tanpa arah.”
99. “Mentari memeluk hari dengan hangat.”
100. “Malam menyimpan doa-doa nan terucap.”
101. “Bintang memanggil mimpi dari kejauhan.”
102. “Angin berbisik pada jalanan sepi.”
103. “Daun kering berlari meninggalkan jejak.”
104. “Langit menutup cerita hari ini.”
105. “Hujan mengantar sunyi ke pelukan malam.”
106. “Mentari tersenyum menyambut pagi nan cerah.”
107. “Awan menepi memberi ruang cahaya.”
108. “Bulan menjaga janji gelap malam.”
109. “Angin menari berbareng debu jalanan.”
110. “Pagi merangkul dingin dengan cahaya.”
111. “Langit menghela napas sebelum hujan.”
112. “Hujan mengetuk kesabaran bumi.”
113. “Mentari memandangi bumi tanpa lelah.”
114. “Kabut menyembunyikan rahasia pagi.”
115. “Angin membawa pesan dari pegunungan.”
116. “Malam memeluk mimpi nan lelah.”
117. “Bintang tersenyum di kembali gelap.”
118. “Awan berbisik sebelum hujan jatuh.”
119. “Daun-daun berpamitan pada ranting.”
120. “Langit menenangkan angin besar nan reda.”
121. “Hujan menemani langkah pulang.”
122. “Mentari membuka pintu hari.”
123. “Angin menyisir kenangan lama.”
124. “Bulan memeluk laut nan tenang.”
125. “Pagi mengantar sinar ke jendela.”
126. “Langit menahan kangen sebelum senja.”
127. “Hujan menyanyikan lagu kerinduan.”
128. “Awan berlari menjauh dari cahaya.”
129. “Mentari menyimpan hangat di bumi.”
130. “Malam menutup luka hari.”
131. “Angin membangunkan daun nan tertidur.”
132. “Langit memeluk senja perlahan.”
133. “Bintang menjaga sunyi hingga pagi.”
134. “Hujan menghapus jejak langkah.”
135. “Senja mengucap selbanget tinggal pada hari.”
136. “Malam mengayun sunyi hingga terlelap.”
137. “Angin siang memeluk panas jalanan.”
138. “Langit mengirim senyum lewat cahaya.”
139. “Hujan menyembuhkan kangen tanah kering.”
140. “Mentari menyimpan janji di ufuk barat.”
141. “Awan memeluk puncak gunung di pagi sepi.”
142. “Bulan mendengarkan cerita ombak.”
143. “Angin pagi membangunkan dedaunan.”
144. “Langit merawat warna-warna senja.”
145. “Hujan mengantar mimpi ke malam.”
146. “Mentari menenangkan dingin embun.”
147. “Kabut memeluk jalan nan sunyi.”
148. “Angin berbisik pada kembang nan mekar.”
149. “Bintang menutup rahasia malam.”
150. “Pagi membuka mata dunia.”
151. “Langit menjaga angan nan perlahan terucap.”
152. “Hujan menyapa bumi dengan lembut.”
153. “Mentari menghangatkan minta manusia.”
154. “Angin membawa pulang keheningan.”
155. “Senja menutup hari dengan senyuman.”
Tips Menggunbakal Majas Personifikasi
Selain terinspirasi dari contoh-contoh tersebut, Anda pun bisa berkarya dengan menyusun majas personifikasimu sendiri agar puisi terasa lebih personal. Simak tips penggunaannya di bawah ini:
1. Pilih Objek nan Mudah Dibayangkan Pembaca
Saat menggunbakal majas personifikasi, sebaiknya pilih objek nan dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti alam, waktu, alias barang di sekitar.
Objek nan familiar dapat membantu pembaca lebih sigap menangkap maksud dari personifikasi nan digunakan. Misalnya, matahari, hujan, angin, alias malam lebih mudah dipahami ketika diberi sifat manusia dibandingkan objek nan terlampau abstrak.
2. Sesuaikan Personifikasi dengan Suasana dan Tema Puisi
Majas personifikasi bakal terasa kuat jika sifat manusia nan diberikan sesuai dengan suasana puisi. Untuk puisi bernuansa sedih, gunbakal personifikasi nan lembut alias melankolis, seperti “hujan menangis” alias “malam menyimpan luka”.
Sementara itu, untuk puisi bertema angan alias kebahagiaan, personifikasi seperti “mentari tersenyum” alias “pagi menyapa dunia” dapat membikin pesan terasa lebih hidup dan menyentuh.
3. Gunbakal Secara Wajar dan Tidak Berlebihan
Penggunaan majas personifikasi nan terlampau sering dalam satu puisi justru dapat membikin pembaca capek dan kehilangan fokus. Oleh lantaran itu, gunbakal majas ini secara selektif dan tepat sasaran. Satu alias dua personifikasi nan kuat sudah cukup untuk memperindah puisi dan mempertegas makna, tanpa kudu memaksbakal setiap baris mempunyai style bahasa nan sama.
Penutup
Dengan memahami dan mempelajari beragam contoh majas personifikasi dalam puisi, Anda dapat mengembangkan keahlian menulis karya sastra secara lebih imajinatif dan ekspresif. Gunbakal contoh-contoh di atas sebagai referensi, lampau cobalah merangkai puisi versimu sendiri agar pesan nan disampaikan terasa lebih hidup dan bermakna. ✏️📜📝
Majas Personifikasi: Pengertian, Contoh, Ciri-Ciri [Daring]. Tautan: https://www.gramedia.com/literasi/majas-personifikasi/
20 Contoh Majas Personifikasi dan Artinya [Daring]. Tautan: https://www.tempo.co/politik/20-contoh-majas-personifikasi-dan-artinya–144983
Klik dan dapatkan info kost di dekat kampus idamanmu:
Kost Dekat UGM Jogja
Kost Dekat UNPAD Jatinangor
Kost Dekat UNDIP Semarang
Kost Dekat UI Depok
Kost Dekat UB Malang
Kost Dekat Unnes Semarang
Kost Dekat UMY Jogja
Kost Dekat UNY Jogja
Kost Dekat UNS Solo
Kost Dekat ITB Bandung
Kost Dekat UMS Solo
Kost Dekat ITS Surabaya
Kost Dekat Unesa Surabaya
Kost Dekat UNAIR Surabaya
Kost Dekat UIN Jakarta
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·